KOMET 2025: When Healing Becomes Business: The Rise of Medical Capitalism

Malang, 26 Juli 2025 – Di tengah perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, kapitalisme tidak hanya merambah dalam dunia bisnis melainkan juga menyusup ke sektor yang paling mengutamakan nilai kemanusiaan, yaitu bidang kesehatan. Kasus ini menjadikan suatutopik menarik yang akan menjadi fokus utama dalam rangka acara KOMET (Kastrad on Meet and Greet) 2025. Acara ini digelar langsung oleh mahasiswa farmasi dari UIN Malang yang berkolaborasi dengan mahasiswa kedokteran dari UII melalui platform Zoom Meeting, setiap perserta berperan penting dalam menyuarakan pendapat dan pemikiran kritis melalui diskusi mengalir yang berjalan di dalam kajian tersebut. 

UIN Maulana Malik Ibrahim Malang – KOMET, merupakan suatu program kerja yang diajukan dari Divisi Kastrad HMPSF Habbatussauda’ berhasil memenuhi harapan bagi mahasiswa farmasi untuk mengasah kemampuan berfikir secara intelektual dan kritis, mampu mengembangkan wawasan, serta memperluas jaringan. Kegiatan ini lebih dari ajang pertukaran buah pikiran. KOMET, sebagai wadah inspiratif yang mampu memberikan motivasi dan ajang silaturahmi bagi mahasiswa kesehatan.

Berlangsungnya Critical Thinking Session, sebuah momen untuk masing-masing peserta menyampaikan aspirasi dan pandangan mengenai adanya praktik kapitalisme dalam dunia kesehatan. Dalam diskusi tersebut, kedua pihak terlihat sangat interaktif dan memiliki beberapa pendapat yang sangat menarik sehingga diskusi dapat berlanjut dengan sangat produktif. Pembukaan diskusi dimulai dengan merujuk mengenai bagaimana kapitalisme terbentuk, merambat dari dunia bisnis menuju dunia kesehatan sehingga menimbulkan beberapa tanggapan dari sudut pandang berbagai pihak. Dengan adanya diskusi ini diharapkan mampu menemukan sumber masalah dan titik temu untuk solusi yang terbaik demi mengurangi adanya praktik kapitalisme medis.

 Berdasarkan kajian tersebut, peserta telah berhasil menentukan beberapa dampak yang akan berpotensi terjadi dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Bagi para tenaga kesehatan seperti apoteker dan dokter, pengaruh kapitalisme dapat dilihat melalui sistem distribusi obat, pelayanan medis, dan jenjang pendidikan (Wacana Edukasi, 2023). Budaya senioritas masih diagungkan dimana senior akan merasa terancam dengan adanya dokter-dokter muda yang bisa dikatakan mampu menggeser posisinya. Pembatasan ruang Gerak menyebabkan generasi dokter muda menjadi kurang fleksibel dan terus menghambat proses regenerasi (Sutan & Al Hamdi, 2020).

Selain itu, dengan tekanan ekonomi oleh tenaga kesehatan seperti biaya pendidikan yang tinggi dan lamanya menempuh jenjang pendidikan menyebabkan mereka terpaksa mengedepankan profit dalam praktik (Purwanto, 2011; Wacana Edukasi, 2023). Dalam hal ini, masyarakat merupakan subjek yang paling dirugikan. Hal ini diperkuat dengan kurangnya edukasi masyarakat mengenai obat-obatan medis sehingga rentan terjadi eksploitasi (Nu’man, 2024). Salah satu solusi yang dapat diterapkan untuk permasalahan ini adalah dengan peningkatan edukasi kepada masyarakat dan tenaga kesehatan. Solusi ini menghadirkan tantangan baru seperti perlu adanya pemahaman yang memadai terkait kapitalisme medis. Selain itu, adanya paradigma pesimistis bahwa sistem kapitalisme sulit diubah. Hal ini dikarenakan sejak awal telah diciptakan adanya sistem “pay to win” di mana seseorang akan mendapatkan akses kesehatan apabila mampu membayar. Dominasi kapitalisme menyebar dalam berbagai sektor termasuk bidang kesehatan (Nabilah dkk, 2025).

Permasalahan praktik kapitalisme medis merupakan persoalan kompleks yang tidak bisa diselesaikan secara instan. Untuk mewujudkan sistem kesehatan yang adil dan berorientasi pada kemanusiaan, maka diperlukan kerja sama antar berbagai pihak baik itu tenaga kesehatan, pemerintah, dan masyarakat. Perlu adanya keberanian politik, kesadaran kolektif, serta edukasi yang bersifat aspiratif dan inspiratif untuk semua pihak. Reformasi sistem kesehatan bukanlah hal yang mustahil, butuh perjuangan yang serius dan bertahap.

Ada saatnya matahari terbit dan tenggelam, KOMET berakhir dengan meriah cahayanya. Acara tersebut berhasil mendapatkan hasil yang memuaskan berupa wawasan baru dan tali silaturahmi yang tetap terjaga kedepannya. Harapannya, dengan adanya hasil kajian tersebut mampu memberikan suatu kontribusi besar mengenai perubahan dan perlawanan terhadap praktik kapitalisme medis yang sedang terjadi. Sehingga, mahasiswa kesehatan selangkah untuk memperjuangkan adanya reformasi dunia kesehatan menjadi lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Nabilah, H., El-Tsana, A. V., & Wasir, R. (2025). Menutup kesenjangan kesehatan: Peningkatan kesetaraan akses dan kualitas layanan kesehatan. Indonesia Journal of Health Science, 5(3), 511–518.

Nu’man, M. (2024). Profesionalisme apoteker dalam perspektif nilai obat sebagai amanah pada teori konstitusi kesehatan Nusantara. Jurnal OBAT. https://journal.arikesi.or.id/index.php/OBAT/article/download/1617/1812/8867

Purwanto, B. (2011, November 27). Belajar sejarah kedokteran untuk mengantisipasi terjadinya kapitalisasi. Universitas Gadjah Mada.
https://ugm.ac.id/id/3204-belajar-sejarah-kedokteran-untuk-mengantisipasi-terjadinya-kapitalisasi/

Sutan, A. J., & Al-Hamdi, R. (2020). Keadilan semi-libertarianisme pada sistem kesehatan di Indonesia: Analisis komparatif pemikiran Bentham dan Kant terhadap implementasi konsep keadilan pada kebijakan BPJS Kesehatan. JKKI: Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia, 9(3), 125–135.

Wacana Edukasi. (2023). Kesehatan masyarakat terancam kapitalisme. Wacana Edukasi.
https://www.wacana-edukasi.com/kesehatan-masyarakat-terancam-kapitalisme/

Dokumentasi:



Credit: Kastrad’25

Hidup Mahasiswa

        Terimakasih

        Wallahul muaafieq illaa aqwamith tharieq

        Wassalamualaikum Wr. Wb

 

        #KOMET2025

        #HMPSFHabbatussauda’

        #LEMFKUII


Komentar

What's Popular?