Sukses Skripsi Melalui Social Behavioural and Administration Pharmacy
Narasumber: apt. Novia Maulina, S.Farm., M.Farm
Gambaran
Umum Penelitian Skripsi
Farmasi Sosial Perilaku dan Administratif yang dahulu kerap
dikenal sebagai farmasi komunitas adalah salah satu departemen farmasi yang menaungi
bidang pelayanan kefarmasian, dimana langsung berinteraksi dalam aspek sosial. Departemen
ini memiliki jangkauan yang luas. Terbagi dalam empat jangkauan, yaitu apotek,
rumah sakit, puskesmas, dan juga industri. Pada kesempatan ini, kita akan
membedah satu persatu pengetahuan tentang skripsi di ke empat jangkauan diatas.
Pembahasan pertama adalah dalam lingkup apotek. Mahasiswa
yang mengambil tema skripsi dalam lingkup ini biasanya mengangkat dua topik
penelitian. Topik pertama pada
bidang pelayanan kefarmasian meliputi kepatuhan pasien, tingkat kepuasan pasien terhadap suatu apotek.
Sedangkan topik kedua terkait manajemen obat, meliputi penyediaan, penyimpanan,
dan pemusnahan obat juga mengenai screening resep. Pada lingkup apotek
ini fokus penelitian melakukan perbandingan antara dua topik diatas dengan
peraturan yang telah tercantum pada perundang-undangan. Apakah apotek telah
melakukan manajemen obat dan pelayanan kefarmasiaan sesuai dengan peraturan
pemerintahan. Selain yang disebutkan diatas juga bisa mengangkat topik
pemberian edukasi kepada masyarakat terkait kepatuhan minum obat, dan edukasi
lainnya. Penelitian mengenai ketersebaran apotek di beberapa wilayah juga kerap
diangkat menjadi topik penelitian untuk skripsi, dimana terdapat peraturan
bahwa perbandingan jumlah penduduk dan apotek berdasarkan standar Kementerian
Kesehatan yaitu 12:100.000, sehingga acuan ini dapat digunakan sebagai
perbandingan dalam suatu daerah, apakah apotek dalam daerah tersebut sudah
tersebar rata ataukah belum.
Lingkup
kedua departemen ini yaitu puskesmas. Dalam topik penelitiannya hampir sama dengan
apotek, karena kurang lebih manajemen didalamnya sama, tetapi perbedaannya lebih
kecil cakupannya. Terkait obatnya juga lebih sedikit daripada apotek, karena
sudah disesuaikan dengan ketentuan dinas kesehatan dan gudang farmasi setempat.
Di lingkup ini kita bisa belajar mengenai manajemen penyediaan dan pengadaan obat,
karena sistematikanya berbeda dengan apotek. Jika obat dipuskesmas berasal dari
gudang farmasi milik dinas kesehatan setempat, apotek memiliki formularium persediaan
obat, karena tiap daerah akan berbeda persediaannya, sesuai dengan epidimiologi
penyakit yang terjadi di daerah tersebut, jika memang di suatu daerah tersebut
banyak yang terjangkit TBC maka pelayanan dan persediaan obat akan lebih banyak
melayani penyakit TBC.
Jadi
jika di puskesmas ini lebih fokus terhadap edukasi pasien, karena yang datang
ke puskesmas selalu orang yang sakit dan kebanyakan yang membutuhkan intensitas
berobat berturut-turut. Selain itu puskesmas juga memiliki program mengedukasi
pasien yang jatuhnya lebih ke pengabdian masyarakat. Terdapat juga program homevisit
atau homecare, sebagai monitoring untuk pasien yang membutuhkan minum
obat dalam waktu panjang, seperti TBC, HVS, DM, dan penyakit lainnya yang membutuhkan
kontrol rutin ke puskesmas. Maka hal tersebut bisa dijaikan topik skripsi terkait
kepatuhan pasien atau tingkat kepuasan terhadap pelayanan, baik dari segi kenyamanan,
fasilitas, kehandalan tenaga kesehatan yang menyediakan obat, dan tenaga
kesehatan yang memberikan informasi. Dalam penelitian di puskesmas juga dapat
menggunakan rekam medis sebagai acuan dalam topik penelitian keberhasilan
pasien dalam terapi obat. Selain topik diatas, masih banyak pengetahuan yang
dapat digali di puskesmas sebagai penelitian skripsi, dalam rumpun edukasi
penelitian dapat dilakukan dengan mengukur tingkat pemahamam pasien dalam suatu
penyakit, juga mengamati kepatuhan, kepuasan, dan efektivitas terapi obat
pasien. Dalam rumpun analisis farmasetik yang dapat dikaji antara lain administrasi
dan pelayanan kefarmasian, screening resep, apakah sudah memenuhi
standar administrasi resep.
Dalam
wilayah rumah sakit, manajemen kefarmasiaan hampir sama dengan puskesmas tetapi
lebih kompleks. Terdapat Cost-Eeffectiveness Analysis (CEA) yaitu analisa
efektifitas biaya, khususnya pada penyakit yang memiliki terapi pengobatan jangka
panjang. Aspek yang dapat dikaji adalah
apakah pengobatan yang dilakukan di rumah sakit itu sudah efektif untuk
menghasilkan outcome terapi dari suatu obat tersebut, untuk instrumen
dapat menggunakan rekam medis dan biaya yang dikeluarkan oleh pasien tersebut. Juga
dapat melaksanakan penelitian atas rasionalitas obat, yaitu obat yang telah
diberikan untuk terapi pada pasien di screening apakah sudah sesuai dengan
outcome-nya. Selain itu, bidang analisis farmasetik bisa disandingakan dengan
standar kefarmasian di rumah sakit, terkait administrasi, pelayanan kefarmasian,
dan mengkaji resep, apakah sudah memenuhi standar administrasi resep.
Lingkup
terakhir adalah industri. Pada rumpun ini biasanya mengangkat topik hilirisasi
produk, mengkaji respon masyarakat terkait produk yang telah diciptakan oleh suatu
tim dan dilanjutkan untuk dipasarkan, melakukan uji preferensi masyarakat terhadap
produk yang telah diciptakan. Selain itu juga bisa melakukan analisis SWOT strategy
sebelum produk turun ke masyarakat. Analisis
marketing seperti apa yang dapat digunakan sehingga masyarakat banyak yang
menerima baik produk tersebut.
Tahapan Penelitian
Skripsi
Tahapan penelitian yang dilakukan pada departemen farmasi
sosial perilaku dan administrasi kurang lebih sama seperti yang lain.
Penelitian ini berupa survei langsung yang berhadapan kepada manusia. Dibawah
ini adalah gambaran tahapan penelitian yang dapat dilakukan dalam departemen ini.
1.
Menentukan
tema dan topik penelitian
2. Mendapatkan
persetujuan dari dosen pembimbing
3. Mengajukan
proposal
Sebelum
melaksanakan pengajuan proposal, hal yang perlu untuk diperhatikan adalah
menentukan latar belakang penelitian. Juga dapat melakukan pra penelitian/survei
sederhana, biasanya dapat berupa kuisioner dalam lingkup kecil. Hal tersebut
dapat digunakan untuk memperkuat latar belakang dari penelitian. Selanjutnya juga menentukan rumusan masalah apa yang
menjadi perbedaan anatara teori dan realita. Bisa didapatkan dari pengkajian
literatur, bertujuan untuk menguatkan dan menguji teori yang sudah ada,
sehingga acuan dari penelitian selalu menggunakan penelitian sebelumnya.
4.
Mengajukan
surat izin penelitian dan uji layak etik
Surat izin penelitian penting jika akan melakukan sebauh
penelitian. Uji kelayanan etik (ethical clearance) memiliki berbagai
jenis, untuk farmasi komunitas kebanyakan menggunakan surat izin penelitian
kegiatan survei, tetapi terdapat juga surat izin penelitian untuk kegiatan di
laboratorium. Untuk mendapatkan uji kelayanan etik biasanya dapat menuju ke
FKIK UIN Malang, UNISMA, POLTEKES.
5.
Meminta
uji penelitian ke kesbangpol (kesatuan bangsa dan politik)
Setelah uji kelayakan etik keluar, untuk mendapatkan izin
penelitian survey di daerah tertentu, kita harus menuju ke kesbangpol. Untuk
persyaratan yang diminta tergantung oleh kebijakan masing-masing daerah,
biasanya terdapat yang meminta surat hingga ke dinas kesehatan setempat. Perlengkapan penelitian juga harus
disesuaikan, informasi apa saja yang harus digali, maka harus mempersiapkan
persyaratan atau perlengkapan untuk dapat meneliti di daerah tersebut.
6.
Menyebarkan
kuisioner
Dalam penyebaran kuisioner harus mendapatkan persetujuan dari dosen pembimbing dan dosen penguji. Jika terdapat tambahan media edukasi berupa poster, leaflet, video materi edukasi juga harus di setujui terlebih dahulu oleh dosen penguji dan dosen pembimbing.
7.
Ambil
sampel bebas
Pengambilan sampel sesuai populasi yang telah ditentukan.
Setelah mendapatkan hasil, data yang didapat diolah dan dianalisa.
8.
Uji
hipotesa berdasarkan hasil data yang telah diperoleh
Hasil penelitian diuji dalam beberapa hipotesa yang telah
disiapkan, apakah hasil yang didapatkan sesuai dengan hipotesa satu dengan yang
lain memiliki pengaruh ataupun sebaliknya.
9.
Mendapatkan
kesimpulan penelitian
Kendala Dalam Penelitian
Karena
bentuk penelitian berupa survey, untuk meminta surat perizinan pada lembaga
atau instansi yang lain, tidak bisa memperkirakan estimasi waktu yang
dibutuhkan. Selain itu dalam mencari responden yang juga tidak bisa
diperkirakan waktunya.
Metode penelitian yang
biasa digunakan
Pada
mata kuliah metodologi penelitian sebisanya sudah memiliki gambaran terkait
penelitian, dimulai departemen hingga metode apa yang akan digunakan. Pada saat
mata kuliah tersebut harus memiliki pertanyaan yang telah mengerucut, sehingga
dapat belajar secara mendalam tentang penelitian. Metode pelitian terdapat dua
jenis, pertama kualitatif dan yyang kedua adalah kuantitatif.
a. Kualitatif
Metode kualitatif ini berupa deskripsi, atau
pendalaman suatu topik, sehingga tidak ada pengolahan dan pengambilan kesimpulan
dari sebuah data. Kegiatan pengambilan gambaran penelitian dilakukan dengan interview
dan observasi, lalu dituangkan berupa naskah deskripsi. Tujuan metode ini
adalah untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam mengenai suatu fenomena melalu
analisa naratif dan deskriptif, menggunakan metode interview dan observasi,
karena terdapat permasalahan yang harus digali hingga dalam. Instrumen yang digunakan berupa wawancara, observasi,
analisa dokumen yang sudah ada, dan juga interview.
Topik yang sering digunakan adalah pengalaman narasumber dan sosial budayanya. Penyebutan subjek penelitian adalah seorang “narasumber”, karena merekalah yang memberikan informasi kepada kita. Bentuk sampel metode ini: mengerucut, maksud dari mengerucut adalah siapa yang paling ahli dan faham yang akan bisa memberikan informasi akan menjadi narasumber atau sampel.
b. Kuantitatif
Metode ini pasti terkuantifikasi.
Terdapat perhitungan di dalamnya, sehingga harus pandai mengolah data. Ada
statistik yang digunakan atau ada data yang bisa diukur dan tergantung metode
perhitungannya, sehingga melewati prosedur statistik. Jika bisa mulai
mempelajari SPSS, yaitu sebuah tools yang digunakan untuk mengolah data
skripsi. Tujuan dari metode ini dapat mengukur secara objektif, terkuantitatif,
dan lebih objektif. Terdapat instrumen yang digunakan
yaitu kuisioner. Subjek penelitian metode ini disebut sebagai responden.
Mayoritas topik yang dingkat adalah hubungan sebab akibat, dan pengaruh pemberian
edukasi. Sampe yang digunakan harus besar, sehingga dapat mewakili populasi dan
ada perhitungan menggunakan rumus slovin untuk menentukan sampel dalam populasi.
Kelebihan
Penelitian
Pada departemen
ini dituntut untuk dapat berkomunikasi, karena yang akan dihadapi masyarakat,
tenaga kesehatan lain, bahkan instansi pemerintahan. Pada penelitian ini skill
dilatih, sehingga di uji bagaimana bisa mendapatkan solusi langsung, karena sebenarnya
yang terjadi akan berbeda dengan yang diperkiran di laboratorium, kelas, maupun
fakultas. Dari penelitian ini, memperluas wawasan terhadap dunia luas. Beberapa
manfaat yang bisa didapatkan antara lain, mendapatkan nilai pengalaman dan bertemu
dengan banyak karakter manusia, sehingga dapat melatih soft skill.
Aspek-Aspek yang Harus Dipersiapkan
Beberapa poin yang harus dipersiapkan jika ingin mengangkat penelitian pada departemen ini adalah:
Bakat dan minat
Pengambilan
departemen ini harus sesuai dengan minat dan bakat, sehingga dapat mempermudah
saat melakukan proses penelitian hingga
skripsi selesai.
2.
Skill
Komunikasi
Karena departemen ini
dituntut untuk dapat berkomunikasi baik dengan beberapa jenis masyarakat.
Sehingga skill berkomunikasi harus disiapkan untuk kelancaran inteview beberapa
narasumber.
3.
Penahaman
terkait metode penelitian
Karena tidak terdapat
praktek dalam departemen ini, sehingga harus dipersiapkan dari awal. Jika telah
mendapatkan topik dilanjutkan untuk belajar mengenai metode penelitian yang
akan digunakan. Mempelajari metode penelitian dapat melihat dari skripsi kakak
tingkat dan juga dari penelitian yang telah ada. Selain hal tersebut juga sudah
mencari tahu bagaimana cara untuk mencari permasalahan, yaitu gap antara relaita
dan teori, mencari teori yang sudah ada, dan mendapatkan rumusan masalah,
sehinggga terdapat rangka konseptual. Dari rangka konspetual tersebut dapat
ditentukan metode penelitian apa yang sesuai. Hal terpentingnya adalah teori
yang diambil harus kuat, begitu juga dengan metode penelitiannya.
4.
Pandai
mengatur waktu
Dikarenakan kesusahan dalam mengestimasi waktu surat
perizinan hingga responded, maka harus pandai memanage waktu, karena
responden tidak bisa dikendalikan.
5.
Melatih
kesabaran
Masih berkesinambungan dengan aspek diatas, kesabaran
akan diuji karena waktu yang tidak bisa kendalikan.
6.
Instrument
penelitian
Instrument yang
digunakan harus up to date, mulai dari design, kreatifitas dalam mengelola
suatu informasi agar bisa mencapai masyarakat dekat baik. Juga bagaimana dapat mengambil
permasalahan dan mengemas dalam bentuk edukasi yang kreatif, dan menuangkan ke
masyarakat supaya dapat diterima dengan baik.
Pembagian Dosen
Bu Ziyana:
komunitas apotik pelayanan kefarmasiaan
Pak Syahrir:
manajemen farmasi apotek, puskesmas, dan rumah sakit
Pak Hakim:
farmakoekonomi dan farmakoepidemiologi
Pak Hajar:
manajemen farmasi apotek, puskesmas, dan rumah sakit
Bu Novia
: manajemen dan bisnis farmasi serta penelitian kefarmasian halal
Skripsi
yang Baik Menurut Bu Novia
Skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai dan
bermanfaat bukan hanya untuk institusi tetapi juga bermanfaat untuk masyarakat.
Dalam hal penelitian komunitas, dapat diwujudkan dengan pemberian edukasi kepada
masyarakat, karena masuk dalam pengabdian masyarakat. Setelah proses pengambilan
data jika bisa kita memberi edukasi tentang penyakit atau sesuatu untuk
masyarakat.
Jika
penelitian terkait binis faramsi, penelitian terkait pengembangan produk
harus bisa sampai terhilirisasi, harus bisa terupload jurnal scopus dan bisa
berlanjut produknya di masyrakat.


Komentar
Posting Komentar