Farmasi Klinis: Cakupan Penelitian, Tantangan, dan Relevansinya dalam Penyusunan Skripsi

Farmasi Klinis: Cakupan Penelitian, Tantangan, dan Relevansinya dalam Penyusunan Skripsi

 

Narasumber : apt. Hj.Alifia Putri Febriyanti, S.Farm., M.Farm.Klin. dan

 Dr. apt. Wirda Anggraini, M.Farm

 

Gambaran Umum Penelitian

Bidang Farmasi Klinis ini dibagi menjadi 2 yaitu :

a.     Biomedical Science

Ilmu biomedis merupakan bidang ilmu dasar yang berfokus pada sel, molekul, hingga organ dengan tujuan utama mendukung pengembangan obat. Penelitiannya bersifat eksperimental dan umumnya dilakukan di laboratorium melalui berbagai pendekatan, seperti in vitro menggunakan sel (misalnya sel kanker) untuk menguji aktivitas obat, in vivo pada hewan coba dengan menginduksi penyakit tertentu sebelum pemberian obat untuk melihat efek penyembuhan maupun toksisitasnya, serta in silico melalui molecular docking untuk memprediksi aktivitas dan mekanisme kerja senyawa pada target biologis.

b.     Clinical Scince

Ilmu klinis berfokus pada penggunaan obat secara optimal, yaitu yang aman, efektif, dan rasional. Berbeda dengan biomedis yang masih berada pada tahap pengembangan, penelitian klinis dilakukan pada manusia untuk mengevaluasi obat yang sudah digunakan. Pada tahap ini, intervensi dapat diberikan kepada pasien, namun bukan sebagai terapi utama, melainkan sebagai tambahan atau pembanding, sementara terapi utamanya tetap sama. Misalnya, dapat dilakukan perbandingan antara penggunaan obat secara monoterapi dengan kombinasi beberapa terapi untuk menilai perbedaan efektivitas maupun keamanannya.

 

Metode Penelitian

a.     Kuantitatif

Penelitian kuantitatif adalah metode penelitian yang menggunakan data berbentuk angka untuk mengukur variabel, menganalisis hubungan, serta menarik kesimpulan secara objektif dengan bantuan statistik. Dalam pendekatan ini terdapat dua desain utama, yaitu:

·     Eksperimental, dilakukan di laboratorium dengan memberikan perlakuan atau intervensi sesuai kaidah eksperimen, seperti adanya kontrol, randomisasi, replikasi, dan perlakuan. Bentuknya dapat berupa true experimentalquasi-experimental, maupun pra-eksperimental.

·     Observasional, yaitu penelitian tanpa memberikan intervensi, melainkan hanya mengamati fenomena yang ada.

Dalam bidang farmasi atau pelayanan kesehatan, contoh penerapan penelitian kuantitatif antara lain DRP Cipolle untuk mengidentifikasi drug related problems, DDD (Defined Daily Dose) untuk menilai pola penggunaan obat, serta pedoman PCNI (Pharmaceutical Care Network Indonesia) yang digunakan untuk mengevaluasi mutu pelayanan kefarmasian dan terapi pasien.

b.     Kuantitatif-Kualitatif (Mixed Method)

Dalam bidang farmasi, penelitian kualitatif murni tidak digunakan. Metode yang dapat digunakan adalah mixed method, yaitu gabungan antara pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Dengan cara ini, data angka dari penelitian kuantitatif dipadukan dengan informasi kualitatif sehingga hasil penelitian lebih lengkap dan dapat memberikan gambaran yang menyeluruh

 

 

Topik Penelitian

Berikut beberapa topik penelitian yang bisa diambil di bidang farmasi klinis :

a.     Evaluasi penggunaan obat, terutama penyakit klinis

b.     Pemantauan terapi obat yang diberikan kepada pasien

c.     Monitoring efek samping obat, misalnya meneliti efek samping obat tertentu dengan pasien tertentu

d.     Analisis Drug Related Problems (DRP)

e.     Evaluasi rasionalitas pengobatan sesuai pedoman Kemenkes

f.      Parameter farmakokinetik dari suatu obat apabila dikombinasikan

g.     Interaksi obat dengan obat

h.     Interaksi obat dengan makanan atau nutrien

i.      Pengembangan vaksin untuk biomedis

j.      Kesehatan haji

k.     Resistensi antimikroba

l.      Uji aktivitas dan toksisitas senyawa menggunakan hewan coba

 

 

Tantangan Penelitian

a.     Memerlukan izin etik untuk semua penelitian yang mengikutsertakan manusia sebagai subyek, menggunakan sampel bahan biologis, hewan coba, dan tanaman.

b.     Jika penelitian menggunakan hewan coba, peneliti harus memiliki keberanian serta menyiapkan biaya untuk alat dan bahan

c.     Jika menggunakan mikroba, diperlukan sarana dan prasarana yang memadai, biaya transportasi, serta biaya pembelian bahan.

d.     Jika melibatkan manusia sebagai subjek penelitian, peneliti wajib memperoleh izin etik terlebih dahulu, yang biasanya memerlukan waktu cukup lama karena harus melalui beberapa tahapan, serta dituntut memiliki keterampilan komunikasi yang baik.

e.     Jika penelitian menggunakan data pasien, peneliti harus memiliki izin etik karena yang mengisi data adalah manusia, serta memahami dan mampu menginterpretasikan rekam medis dengan tepat.

f.      Penelitian di laboratorium juga membutuhkan keterampilan praktis dalam melakukan prosedur penelitian serta kemampuan mengoperasikan peralatan yang digunakan.

 

Tips Mengerjakan Skripsi

a.   Menjawab urgensi mengapa dilakukan penelitian tersebut.

b.   Mengetahui dengan betul manfaat penelitian yang dilakukan.

c.   Memiliki keberlanjutan (sustainability) sehingga hasil penelitian dapat dikembangkan lebih lanjut.

d.   Menggunakai AI hanya sebagai alat bantu bukan sebagai satu-satunya sumber informasi

e.   Memiliki ketertarikan dan niat yang besar terhadap topik penelitian.

f.    Perbanyak membaca literatur karena adanya batasan tahun literatur.

g.   Fokus Ketika mengerjakan skripsi.

h.   Mempelajari cara mecari keyword yang tepat dan tidak membatasi literatur yang  berbahasa Indonesia saja

i.    Tidak cepat menyerah.

 

Kriteria Dosen dan Mekanisme Perekrutan Dosen (apt. Fifi)

a.     Nilai farmakoterapinya bagus

b.     Mendapatkan rekomendasi dari kakak tingkat

 

Skripsi yang Baik

a.   Menurut apt. Fifi, Skripsi yang baik adalah skripsi yang visible atau mudah dilakukan, artinya dapat dilaksanakan sesuai kemampuan dan sumber daya yang ada. Namun, kemudahan tersebut bukan berarti mengabaikan hal-hal yang bersifat prinsip. Setiap penelitian tetap harus berpegang pada kaidah ilmiah yang benar serta mengacu pada blueprint penelitian, sehingga meskipun sederhana, skripsi tetap memiliki kualitas akademik dan nilai ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

b.     Menurut apt. Wirda, Skripsi yang baik adalah skripsi yang mampu menjawab urgensi mengapa penelitian tersebut dilakukan, disertai pemahaman yang jelas mengenai manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian tersebut. Selain itu, skripsi juga harus memiliki keberlanjutan (sustainability), sehingga hasil penelitian tidak berhenti pada tahap akademik saja, melainkan dapat dikembangkan lebih lanjut dan  memberikan kontribusi nyata di bidang yang relevan

 

 

Penulis : Ahdina Naylal ‘Izza dan Zahra Afifatun Nida’


Hidup Mahasiswa

                    Wallahul muaafieq ilaa aqwamith tharieq

                    Wassalamualaikum Wr. Wb

 

                    #HMPSFHABBATUSSAUDA'

                    #WidigdaAskara

 












Komentar

What's Popular?